Purwakarta/tamparan.net
Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti prosesi wisuda di Universitas Kartamulia Purwakarta. Sebanyak 27 wisudawan dan wisudawati resmi menyandang gelar sarjana, disaksikan oleh orang tua yang hadir dengan mata berkaca-kaca sebuah momen yang menjadi puncak dari perjalanan panjang penuh perjuangan.

Di antara senyum bahagia, terselip kisah pengorbanan. Ada orang tua yang datang dari jauh, ada yang menabung bertahun-tahun demi pendidikan anaknya, bahkan ada yang tak kuasa menahan air mata saat nama buah hati mereka dipanggil ke depan.
Acara wisuda digelar di Kampus Universitas Kartamulia, Desa Sukatani Kabupaten Purwakarta Sabtu (18/4/2026), dihadiri sejumlah pejabat penting, diantaranya Agus Gumilar dari LLDIKTI Wilayah IV, Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hafidin, Wakil Ketua DPRD Purwakarta Lutfi Bamala, serta Kepala Dinas Pendidikan Sadiyah. Hadir pula jajaran pimpinan perguruan tinggi, yayasan, dosen, orang tua wisudawan, hingga duta pariwisata Jawa Barat juara 2, Vera.

Rektor Universitas Kartamulia Purwakarta, Dr. Muhammad, dalam sambutannya tidak hanya menyampaikan pesan formal, tetapi juga menyentuh sisi emosional para hadirin.
“Bahagiakan orang tua. Gaji pertama, ingat ibu dan bapak. Itu bukan sekadar tradisi, tapi bentuk terima kasih atas perjuangan mereka,” ucapnya dengan penuh ketulusan.

Pesan tersebut menggema di hati para wisudawan. Sebagian terlihat mengangguk, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata, mengingat perjalanan yang telah dilalui bersama keluarga.
Tak hanya itu, Rektor juga mengajak para lulusan untuk tetap terhubung dengan almamaternya. Ia mendorong para alumni untuk kembali, berbagi pengalaman, serta menjadi inspirasi bagi adik tingkat.

“Kalau sudah sukses, kembalilah. Jadilah inspirasi, bantu adik tingkat, dan jadikan kampus ini rumah yang terus hidup melalui kontribusi kalian,” pesannya.
Di tengah suasana khidmat, harapan juga disampaikan kepada para orang tua agar senantiasa memberikan doa dan dukungan terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.
“Ikhlaskan anak-anak untuk melangkah lebih jauh. Doakan mereka, dan jadikan rumah sebagai tempat pulang yang selalu hangat,” tambahnya.
Acara semakin berkesan saat ditutup dengan pantun sederhana namun sarat makna, menggambarkan perjalanan hidup yang baru saja dimulai.
Pergi ke taman memetik melati,
Singgah sejenak di Purwakarta yang asri.
Hari ini bukan sekadar wisuda terjadi,
Tapi lahir harapan untuk masa depan negeri.
Wisuda ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang doa, harapan, dan langkah awal menuju masa depan. Di balik toga yang dikenakan, ada mimpi yang siap diperjuangkan—serta keluarga yang selalu menjadi alasan untuk terus melangkah.
(Red)






