PURWAKARTA || tamparan.net – Aroma sedap kuliner yang dulu menggoda di kawasan wisata kuliner Situ Buleud kini berganti dengan aroma air mata dan amarah. Pemerintah Kabupaten Purwakarta dituding zalim setelah merelokasi paksa para pedagang wisata kuliner (wiskul) dengan dalih perbaikan drainase.
Benarkah ada udang di balik batu? Atau ini sekadar “pembersihan” wajah kota demi ambisi pembangunan yang tak mempedulikan nasib rakyat kecil?
Ketua Ikatan Pedagang Wisata Kuliner Purwakarta (IPWKP), Rudi Mulyana, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Kami dibohongi! Kami dizalimi! Mereka merelokasi kami tanpa kajian yang jelas, tanpa musyawarah, hanya dengan alasan perbaikan drainase yang tidak masuk akal,” tegas Rudi dengan nada bergetar.
Rudi mengungkapkan bahwa IPWKP telah berupaya mencari solusi dengan melayangkan surat ke DPRD Purwakarta, memohon diadakannya rapat kerja antara pedagang dan Pemda. Namun, upaya tersebut berujung sia-sia. “Pemerintah daerah bungkam, tak memberikan penjelasan yang memuaskan, dan tetap ngotot merelokasi kami,” ujarnya, kepada awak media, belum lama ini.
Di sisi lain, Maemunah, seorang pedagang yang merasa dicampakkan oleh pemerintah, menjadi representasi dari luka yang menganga di hati para pedagang wiskul. “Kami merasa seperti sampah yang dibuang begitu saja. Hak kami dirampas, masa depan kami dihancurkan,” lirih Maemunah dengan mata berkaca-kaca.
Kawasan Wiskul Purwakarta, yang dulunya menjadi magnet bagi wisatawan dan sumber penghidupan bagi ratusan keluarga, kini berubah menjadi “kuburan” harapan. Tiga minggu tanpa penghasilan, diawali dengan kebohongan tentang perbaikan drainase, telah menghantui setiap malam para pedagang dengan mimpi buruk tentang kemiskinan dan kelaparan.
Teh Mumun, sapaan akrab Maemunah, dengan geram menuturkan alasan yang dilontarkan Pemkab Purwakarta melalui Dishub dan DKUPP. “Dishub menuduh wiskul Car Free Night (CFN) sebagai penyebab kemacetan dan polusi, padahal Car Free Day (CFD) dibiarkan merajalela. DKUPP mengklaim ingin memajukan UMKM, tapi justru menghancurkan UMKM yang sudah mapan dan menggusur kami ke lokasi yang tidak jelas,” ungkap Teh Mumun dengan nada sinis.
Ironisnya, DPRD Purwakarta, yang seharusnya menjadi pembela rakyat, memilih untuk menutup mata dan telinga terhadap jeritan para pedagang. Mereka telah mengkhianati kepercayaan rakyat dan membiarkan kesewenang-wenangan merajalela.
Para pedagang telah berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan hak mereka. Mereka telah menawarkan solusi konstruktif, memohon belas kasihan, dan mencoba membuka hati para penguasa. Namun, semua usaha mereka seolah menabrak tembok tebal kekuasaan.
Wiskul Sitbul bukan hanya sekadar tempat berjualan, tetapi juga simbol identitas dan keunikan Purwakarta. Relokasi sepihak ini adalah tindakan brutal yang merampas hak para pedagang dan menghancurkan warisan budaya serta ekonomi yang telah lama menghidupi kota ini.
Rizky Widya Tama, aktivis pada Lembaga Kajian Kebijakan Publik Analitika Purwakarta, dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah daerah telah menunjukkan wajah aslinya sebagai penguasa yang otoriter dan tidak peduli terhadap penderitaan rakyat kecil.
“Musyawarah dan dialog hanyalah formalitas kosong yang tidak pernah diindahkan. Kebijakan yang seharusnya membawa kemajuan justru menjadi alat untuk menindas dan memiskinkan masyarakat,” kata Rizky.
Menurutnya, relokasi sepihak ini menjadi preseden buruk bagi tata kelola pemerintahan di Purwakarta. Pemerintah daerah seharusnya lebih mengedepankan dialog dan musyawarah dalam setiap pengambilan kebijakan, terutama yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. “Jangan sampai pembangunan yang seharusnya menyejahterakan rakyat justru malah menjadi alat penindasan dan penghancuran,” ujarnya.
Dikabarkan sejumlah media, pada Sabtu malam, 22 November 2025, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzen, secara resmi membuka acara Wisata Kuliner Purwakarta di lokasi barunya, halaman GOR Purnawarman.
Peresmian ini menandai relokasi pusat kuliner yang sebelumnya berlokasi di Jalan KK. Singawinata, kawasan Situ Buleud. Pemindahan lokasi ini merupakan bagian dari upaya penataan kota untuk meningkatkan kualitas lingkungan, kenyamanan masyarakat, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kita ingin memberikan ruang yang lebih tertata dan nyaman bagi para pedagang maupun pengunjung, sekaligus menjadikan Purwakarta semakin dikenal sebagai destinasi kuliner yang menarik,” kata Om Zein. Wisata Kuliner Purwakarta kini tak hanya menawarkan beragam pilihan makanan khas daerah, tetapi juga menghadirkan berbagai pertunjukan kesenian budaya. (Red)



