Purwakarta/tamparan.net
Komunitas tenis meja Bowakid yang meliputi wilayah Bojong, Wanayasa, Kiarapedes, dan Darangdan Kabupaten Purwakarta menilai bahwa ukuran kemampuan seorang pemain bukan hanya dilihat saat mendominasi latihan internal, melainkan ketika mampu bersaing menghadapi lawan dari luar daerah dalam sebuah turnamen resmi.
Hal tersebut menjadi perhatian para pemain dan komunitas tenis meja Bowakid setelah berbagai event pertandingan mempertemukan atlet lokal dengan peserta dari kabupaten lain yang memiliki pengalaman serta karakter permainan berbeda.
Salah satu pemain Komunitas Bowakid, Bang Zay, mengatakan bahwa para pemain tidak boleh merasa puas hanya karena menjadi unggulan di lingkungan internal sendiri. Menurutnya, dunia pertandingan sesungguhnya dimulai ketika pemain berhadapan dengan lawan-lawan baru di luar komunitas.
“Sebagai parameter kemampuan pemain itu bukan saat menang terus di internal Bowakid, tetapi bagaimana ketika menghadapi pemain dari luar daerah. Di situlah kualitas mental, teknik, dan pengalaman benar-benar diuji,” ujar Bang Zay saat diminta keterangan awak media senin (25/5/2026).
Ia menilai, selama ini sebagian pemain masih terlalu nyaman berlatih dan bertanding di lingkungan yang sama, sehingga pola permainan menjadi mudah ditebak dan kurang berkembang. Karena itu, Bowakid mendorong para pemain untuk memperluas jam terbang dengan menjalin silaturahmi antar PTM di berbagai daerah.
Menurut Bang Zay, langkah tersebut penting agar para pemain tidak terjebak dalam zona nyaman dan memiliki pengalaman menghadapi berbagai tipe permainan yang lebih kompetitif.
“Perlunya silaturahmi dan menjelajah ke PTM lain itu supaya permainan kita tidak monoton. Harus ada penyegaran, pengalaman baru, dan mental tanding yang terus diasah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kemenangan saat latihan belum tentu menjadi jaminan keberhasilan dalam sebuah turnamen. Faktor mental, tekanan pertandingan, suasana tempat, hingga kualitas lawan sangat memengaruhi hasil akhir di lapangan.
“Kadang saat latihan main bagus dan menang terus, tapi ketika masuk event pertandingan justru kalah. Itu karena pertandingan sesungguhnya berbeda. Ada tekanan mental, adaptasi tempat, dan lawan yang kualitasnya mungkin lebih matang,” tambahnya.
Bowakid sendiri selama ini dikenal aktif menggelar dan mengikuti berbagai turnamen tenis meja di wilayah Purwakarta dan sekitarnya. Komunitas tersebut juga menjadi wadah pembinaan sekaligus ruang silaturahmi bagi pecinta tenis meja lintas usia.
Melalui pengalaman bertanding melawan pemain dari luar daerah, komunitas Bowakid berharap para atlet lokal mampu meningkatkan kualitas permainan sekaligus membangun mental juara yang sesungguhnya, bukan sekadar hebat di kandang sendiri.
(Red)






