Purwakarta/tamparan.net
Pengajian rutin Kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani dan Kitab Sirrul Asror yang disampaikan Ustadz Muhammad Khoerudin berlangsung khidmat di kediaman Bapak Azfan Bustomi, Kampung Pesantren RT 07/RW 03, Desa Nagrog, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu malam (15/7/2026).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muhammad Khoerudin mengajak jamaah untuk memadukan pemahaman syariat dengan pengamalan tasawuf agar terbentuk pribadi muslim yang taat secara lahir maupun batin.
Pada pembahasan Kitab Nihayatuz Zain, beliau menjelaskan tata cara istinja (bersuci) sesuai tuntunan syariat, pentingnya menjaga kebersihan sebagai syarat sah ibadah, serta adab kehidupan sehari-hari. Jamaah juga diingatkan tentang keutamaan Hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam dengan memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW, mengenakan pakaian yang bersih, merapikan diri, dan meningkatkan amal ibadah.
Selain itu, dijelaskan pula adab makan sesuai sunnah Rasulullah SAW, di antaranya membaca basmalah, makan menggunakan tangan kanan, serta mengakhiri makan dengan membaca hamdalah.
Sementara dalam pembahasan Kitab Sirrul Asror, Ustadz Muhammad Khoerudin menerangkan bahwa perjalanan seorang hamba menuju makrifat harus diawali dengan penyucian hati, memperbanyak zikir, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Beliau menjelaskan tingkatan ruh manusia, yaitu ruh jasmani, ruh rohani, dan ruh sulthani, serta tingkatan hati hingga mencapai fuad (mata hati) sebagai pusat kesadaran spiritual. Jamaah juga diajak meneladani sifat Allah Al-Wahhab (Maha Pemberi), memperbanyak zikir khafi (zikir dalam hati), serta menjadikan ilmu bukan hanya dipahami melalui lisan, tetapi diresapi hingga melahirkan akhlak yang mulia.
“Jangan jadikan harta sebagai tujuan hidup. Sandarkan hati hanya kepada Allah SWT. Jika hati dekat kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya dan memudahkan setiap urusannya,” pesan Ustadz Muhammad Khoerudin kepada jamaah.
Beliau juga menegaskan bahwa jalan menuju makrifat harus tetap berlandaskan Al-Qur’an dan hadis serta dibimbing oleh guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sehingga pemahaman syariat dan hakikat berjalan seimbang.
Pengajian rutin tersebut mendapat antusiasme dari masyarakat yang hadir. Melalui kajian dua kitab ini, jamaah diharapkan mampu mengamalkan syariat secara benar, memperkuat zikir, membersihkan hati, serta meningkatkan kualitas ibadah agar semakin dekat dengan Allah SWT dan memperoleh ketenangan lahir maupun batin.
(Red)






