PURWAKARTA/tamparan.net
Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di kediaman Andhi Jalal, Kampung Simpang, Desa Simpang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jumat malam (11/9/2026), tidak sekadar menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW.
Di hadapan para jamaah rutin, tokoh ulama, tokoh masyarakat, para ustadz dan ustadzah serta warga setempat, tausyiah justru mengajak umat untuk melihat lebih dalam makna ibadah. Sebab, ibadah tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi harus mampu melahirkan perubahan dalam diri dan kehidupan seseorang.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Khoerudin dari Cipulus, Wanayasa, dalam tausyiahnya pada acara Maulid Nabi tersebut.
Menurutnya, dalam tuntunan ibadah terdapat tiga hal penting yang harus dipahami dan dijalankan secara berkesinambungan, yakni syariat, thariqah, dan hakikat.
“Syariat itu teori, thariqah itu pekerjaan atau praktik, sedangkan hakikat adalah buah atau hasil,” ungkap Ustadz Muhammad Khoerudin di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, syariat merupakan aturan dan tata cara yang menjadi dasar umat Islam dalam menjalankan ibadah. Mulai dari tata cara shalat, puasa, zakat hingga berbagai ketentuan fikih lainnya.
Namun, syariat tidak boleh berhenti sebatas pengetahuan. Apa yang telah dipahami harus diwujudkan dalam amal dan perilaku nyata. Di sinilah thariqah menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang muslim.
“Kalau mendengar kata thariqah jangan merasa aneh. Thariqah itu jalan atau pekerjaan, yaitu bagaimana syariat yang sudah kita ketahui kemudian kita kerjakan dan amalkan,” jelasnya.
Sedangkan hakikat merupakan buah dari perjalanan tersebut. Artinya, ibadah yang benar semestinya memberikan dampak terhadap hati, akhlak dan perilaku seseorang.
Jangan sampai ibadah hanya mengubah gerakan, tetapi tidak mengubah kehidupan. Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam tausyiah. Sebab, seseorang bisa saja mengetahui banyak teori agama dan rajin melakukan ibadah secara lahiriah, tetapi jika tidak menghasilkan akhlak dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, maka masih perlu dilakukan evaluasi terhadap kualitas ibadahnya.
“Syariat harus dikerjakan. Dari pekerjaan itu kemudian kita mendapatkan buahnya. Itulah hakikat,” tutur Ustadz Muhammad Khoerudin.
Ia mencontohkan shalat. Shalat bukan hanya persoalan gerakan dan bacaan yang dilakukan dari takbir hingga salam. Lebih dari itu, shalat diharapkan mampu membentuk pribadi yang semakin baik, mampu menjaga perilaku dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Karena itu, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada pembacaan Barzanji, shalawat maupun ceramah semata. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran dan meneladani akhlaknya.
Maulid bukan sekadar mengenang Nabi, tetapi bagaimana nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW hadir dalam kehidupan umat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasul, dilanjutkan pembacaan Diba Barzanji, ayat-ayat suci Al-Qur’an, lantunan shalawat dan tausyiah. Seluruh rangkaian berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan hingga ditutup dengan doa bersama.
Peringatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi jamaah bahwa perjalanan beragama tidak cukup hanya mengetahui syariat dan menjalankan rutinitas ibadah. Ada proses pengamalan yang harus dijalani dan ada buah ketakwaan serta akhlak yang semestinya lahir dari setiap amal.
Sebab, ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya seberapa banyak yang dilakukan, tetapi seberapa jauh ibadah itu mampu membentuk manusia menjadi lebih baik.
(Red)







